Jumat, 15 Juli 2011

Dahulukan Karakter Damai

Kisah mengerikan terjadi di daerah Koja, Tanjung Priok, Rabu, tanggal 14 April 2010 lalu. Di jalanan, ribuan warga melempari aparat Satuan Polisi Pamong Praja dan polisi dengan apa saja. Sesekali mengejar petugas, kemudian merampas peralatan mereka. Aparat juga melawan. Mereka bergiliran melemparkan batu ke arah warga. Sesekali menembakkan meriam air atau gas air mata ke kerumunan warga. Kejar-kejaran tak terhindarkan.

Perang kota ini hanya berlangsung di jalan di wilayah Koja, Jakarta Utara. Perang tak terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja yang menjadi tempat perawatan korban-korban luka. Kedua pihak dirawat di satu ruang, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja. Rumah sakit ini juga menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah berperang di jalan.

Di RSUD Koja tidak ada permusuhan. Semua yang berada di tempat ini hanya mereka yang memerlukan pertolongan. Pihak rumah sakit mengambil sikap tegas. Caroline, Wakil Direktur RSUD Koja, berkata, "Kami harap tenang, sabar. Jangan ganggu kami memberi pengobatan. Semua warga akan kami tolong."

Selama bentrok berdarah itu, kepanikan terpusat di Ruang IGD RSUD Koja. Sanak keluarga menunggu di depan pintu masuk ruangan itu. Hampir semua korban dibawa tim medis dengan ambulans ke ruangan ini. Suasana di IGD RSUD Koja hiruk-pikuk. Selama penantian para korban luka, mereka yang bertikai tak saling bentrok di rumah sakit. Kedua pihak sama-sama bisa menahan diri.

Sahabat, bentrokan fisik selalu meninggalkan kepedihan bagi mereka yang menjadi korban. Ada yang mesti menanggung penderitaan. Peristiwa yang terjadi di Tanjung Priok itu (atau di mana saja) menjadi sebuah bahan refleksi bagi manusia. Rakyat dan pihak yang memiliki kekuasaan mesti merefleksikan peristiwa yang terjadi. Mengapa harus terjadi bentrokan fisik di antara manusia? Bukankah ada cara-cara damai yang mesti dilalui untuk mengatasi bentrok fisik?

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup manusia ini adalah karakter manusia yang senantiasa mendahulukan damai. Tidak gampang menemukan orang yang memiliki karakter seperti ini. Orang mesti berusaha dengan berbagai cara untuk memiliki karakter yang kuat dalam memperjuangkan damai dalam hidup. Ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi.

Orang beriman diajak untuk memiliki karakter yang senantiasa mendahulukan damai. Untuk itu, orang beriman mesti menjauhkan dirinya dari permusuhan dan kebencian dalam hatinya. Orang mesti melepaskan diri dari dua hal ini untuk menumbuhkan karakter damai dalam dirinya. Tentu saja hal ini tidak mudah.

Namun kita dapat menyerap contoh dalam tragedi Tanjung Priok dalam kisah tadi. Orang mesti berani untuk saling mengampuni dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/

0 komentar: