Kamis, 14 Juli 2011

Berani Meninggalkan Keinginan Pribadi

Perceraian selalu meninggalkan kepedihan dalam hidup. Pasangan yang bercerai sebenarnya mengingkari cinta yang telah lama mereka jalin. Mereka mengakui kegagalan dalam membangun cinta itu. Karena itu, jalan pintas mereka pilih. Untuk sementara, peristiwa perceraian menguntungkan kedua belah pihak. Namun mesti diakui bahwa peristiwa perceraian meninggalkan luka dalam diri orang-orang yang hidup di sekitar mereka.

Pengalaman ini dialami aktor Jake Gyllenhaal yang tak kuasa menghilangkan rasa sedihnya saat kedua orangtuanya mengabarkan perceraian mereka setelah 29 tahun menikah. Namun, bintang film Brokeback Mountain berusia 29 tahun ini menghormati keputusan orangtuanya itu.

Ia berkata, "Sesakit apa pun perceraian itu, kita semakin realistis melihat sebuah hubungan. Ada hubungan pernikahan yang bisa berlangsung selamanya, tetapi ada pula yang sementara saja. Perlu keberanian mereka untuk membuat keputusan ini. Mereka tetap orangtua yang luar biasa bagi saya dan saudara saya aktris Maggie Gyllenhaal."

Melalui perceraian orangtuanya ini, Gyllenhaal mengaku bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Namun orang mesti tetap selalu berusaha untuk meraih kesempurnaan dalam hidup ini. Untuk mencapai kesempurnaan itu tidak gampang. Tidak sekali jadi dalam satu usaha. Ada aral yang melintang dalam usaha untuk meraih kesempurnaan itu.

Sahabat, banyak orang tahu dan mengerti bahwa perceraian itu meninggalkan penderitaan dalam hidup ini. Ada luka yang terasa sakit yang menusuk hati seseorang. Namun sering orang mengambil langkah nekat untuk saling bercerai. Orang memutuskan untuk berpisah dengan berbagai alasan.

Pertanyaannya, mengapa manusia tega untuk saling memisahkan diri dari perkawinan yang sakral dan suci itu? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bermacam ragam. Namun satu hal yang pasti, yaitu egoisme menjadi faktor paling kuat dalam perceraian itu. Orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri. Orang memaksakan keinginan dirinya sendiri kepada pasangannya. Tidak ada kesepakatan di antara pasangan ini. Yang mereka pentingkan hanyalah pemenuhan egoisme mereka.

Karena itu, orang beriman mesti selalu hati-hati dalam hal ini. Orang tidak boleh cepat-cepat memutuskan untuk berpisah setelah menjalin relasi cinta yang mendalam dan lama. Orang mesti berusaha untuk mengerti pasangannya. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri terjadi dalam kehidupan berkeluarga.

Ketika sebuah pasangan menyadari sungguh-sungguh makna perkawinan dalam hidup mereka, perkawinan mereka akan langgeng. Namun ketika orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri, perkawinan akan mudah rapuh dan goyah. Karena itu, orang beriman yang hidup dalam perkawinan mesti selalu menyadari pentingnya perkawinan bagi keselamatan dan kebahagiaan masing-masing pasangan. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/

0 komentar: