Suatu hari seorang bapak mengeluh tentang anaknya yang duduk di SMA. Bapak itu mengatakan bahwa anaknya sangat jauh berbeda. Tidak seperti waktu masih di SMP. Dulu anaknya itu mematuhi perintah-perintahnya. Sekarang anak itu sulit diatur. Dia lebih suka bermain game di komputer. Sampai tidak tahu waktu.
Bapak itu berkata, "Anak saya sekarang ini lebih banyak waktu di depan komputer. Begitu selesai sekolah, dia langsung menghilang. Tidak makan dulu. Sampai jam lima sore baru pulang ke rumah."
Situasi seperti ini membuat bapak itu semakin resah. Ia semakin sulit mengatasi anaknya. Ada banyak alasan yang dikemukakan oleh anaknya. Tentang makan, misalnya, anaknya selalu mengatakan ia sudah makan. Padahal nyata-nyatanya belum makan. Ia kuatir kalau-kalau anaknya itu nanti jatuh sakit.
Bapak itu berkata, "Anak saya ini pernah sakit berat, karena kurang gizi. Dia harus dirawat di rumah sakit beberapa hari. Saya harus keluarkan biaya untuk rumah sakit. Padahal saya ini bukan orang kaya..."
Bapak itu tidak punya cara lagi untuk menghentikan kebiasaan buruk anaknya. Suatu hari bapak itu mendapatkan satu cara yang menurutnya sangat ampuh. Ia membelikan anaknya sebuah komputer lengkap dengan gamenya. Ia merasa senang melihat anaknya tidak meninggalkan rumahnya. Namun kebiasaan anaknya tetap sama. Ia terpaku di depan komputer itu bermain game.
Sahabat, alat-alat modern sedang menguasai hidup manusia. Manusia mudah terkecoh oleh hadirnya barang-barang elektronik yang mewah itu. Seolah-olah alat-alat itu menjadi segalanya dalam hidup manusia. Orang gampang tergoda. Orang sulit untuk melepaskan diri dari pengaruh alat-alat teknologi cangggih.
Keresahan bapak terhadap kebiasaan anaknya dalam kisah tadi menjadi salah satu contoh betapa orang mudah dikuasai oleh kecanggihan teknologi. Karena itu, orang mesti ingat bahwa alat-alat tekhnologi itu hanyalah sarana yang memudahkan manusia dalam hidup ini. Alat-alat itu bukanlah segalanya. Alat-alat itu mesti diperlakukan sebagai sarana. Bukan hal yang utama dalam hidup manusia.
Ketika orang mengandalkan alat-alat teknologi canggih itu dalam hidup, orang akan mengalami keresahan dalam hidupnya. Orang tidak akan mengalami ketenteraman dalam hidup ini. Rasa damai menjadi hilang. Orang akan bertengkar satu sama lain.
Sebagai orang beriman, kita mesti mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidup ini. Damai akan terjadi dalam hidup ini. Ketika orang mengandalkan Tuhan, yang terjadi adalah orang menjalani hidup ini dengan tenteram. Tidak akan ada keresahan dalam hidup ini. Soalnya, apakah manusia mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan? Atau manusia lebih mengandalkan diri dan alat-alat tekhnologi canggih dalam hidupnya?
Mari kita andalkan Tuhan dalam hidup ini. Alat-alat tekhnologi canggih yang kita miliki itu hanyalah sarana yang membantu kita untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Senin, 18 Juli 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Terus Berjuang bagi Kepentingan Bersama
Masih adakah sosok orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara di negeri ini? Bukankah banyak orang hanya mementingkan diri sendiri? Bukahkah berbagai persoalan korupsi di negeri ini bermula dari penonjolan kepentingan diri sendiri? Orang ingin kaya mendadak. Orang ingin memiliki harta dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Akibatnya, uang rakyat dirampas begitu saja dengan cara-cara yang tidak halal.
Kasus-kasus korupsi yang melibatkan berbagai pihak di negeri ini menjadi salah satu contoh tidak adanya orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara. Mereka hanya bekerja demi kepentingan diri sendiri. Kepentingan rakyat banyak diabaikan. Akibatnya terjadi jenjang yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin. Si kaya boleh berfoya-foya. Sedangkan si miskin terpaksa hidup apa adanya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja tidak mampu.
Krisbiantoro merasakan situasi sekarang ini sebagai situasi yang memprihatinkan. Pria berusia 73 tahun ini pernah terlibat dalam masa perjuangan kemerdekaan negeri ini. Ia merasakan ada berbedaan yang begitu besar antara generasinya dengan generasi sekarang. Ia memberi contoh kasus kejahatan uang milik rakyat yang dilakukan oleh Gayus Tambunan.
Kris Biantoro mengatakan bahwa sepertinya generasi muda sekarang perlu untuk kembali "dipertemukan" dan "diperkenalkan" dengan sosok-sosok ksatria. Sosok orang-orang yang berani berkorban demi bangsa dan negara. Ia memberi contoh Jenderal Sudirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Gatot Subroto yang menjadi idola kaum muda pada zamannya. Mereka telah menunjukkan korban yang begitu besar bagi bangsa dan negara ini.
Sambil berseloroh, ia berkata, "Jangan seperti sekarang. Hampir setiap hari kita ini dicekoki soal Gayus Tambunan."
Sahabat, tugas setiap warga negara adalah menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran. Namun soalnya adalah kita kekurangan kesatria yang berani berkorban. Artinya, orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara ini.
Tentu saja hal ini terjadi karena bangsa kita sudah kehilangan semangat berjuang. Yang ada sekarang ini adalah bangsa penikmat. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan sudah lama berlalu. Perjuangan untuk membangun bangsa dan negara ini juga tampaknya sudah berlalu. Karena itu, yang ada sekarang adalah menikmati hasil perjuangan dan pembangunan. Tidak usah heran tumbuh dan berkembang Gayus-gayus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, apa yang dikatakan oleh Krisbiantoro patut kita serap dalam hidup kita. Sebagai bangsa, kita perlu mencontoh sosok-sosok pejuang. Mereka telah berani mengorbankan hidup untuk kita. Mereka memberi semangat bagi kita untuk memacu diri menjadi bangsa pejuang. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Kasus-kasus korupsi yang melibatkan berbagai pihak di negeri ini menjadi salah satu contoh tidak adanya orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara. Mereka hanya bekerja demi kepentingan diri sendiri. Kepentingan rakyat banyak diabaikan. Akibatnya terjadi jenjang yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin. Si kaya boleh berfoya-foya. Sedangkan si miskin terpaksa hidup apa adanya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja tidak mampu.
Krisbiantoro merasakan situasi sekarang ini sebagai situasi yang memprihatinkan. Pria berusia 73 tahun ini pernah terlibat dalam masa perjuangan kemerdekaan negeri ini. Ia merasakan ada berbedaan yang begitu besar antara generasinya dengan generasi sekarang. Ia memberi contoh kasus kejahatan uang milik rakyat yang dilakukan oleh Gayus Tambunan.
Kris Biantoro mengatakan bahwa sepertinya generasi muda sekarang perlu untuk kembali "dipertemukan" dan "diperkenalkan" dengan sosok-sosok ksatria. Sosok orang-orang yang berani berkorban demi bangsa dan negara. Ia memberi contoh Jenderal Sudirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Gatot Subroto yang menjadi idola kaum muda pada zamannya. Mereka telah menunjukkan korban yang begitu besar bagi bangsa dan negara ini.
Sambil berseloroh, ia berkata, "Jangan seperti sekarang. Hampir setiap hari kita ini dicekoki soal Gayus Tambunan."
Sahabat, tugas setiap warga negara adalah menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran. Namun soalnya adalah kita kekurangan kesatria yang berani berkorban. Artinya, orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara ini.
Tentu saja hal ini terjadi karena bangsa kita sudah kehilangan semangat berjuang. Yang ada sekarang ini adalah bangsa penikmat. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan sudah lama berlalu. Perjuangan untuk membangun bangsa dan negara ini juga tampaknya sudah berlalu. Karena itu, yang ada sekarang adalah menikmati hasil perjuangan dan pembangunan. Tidak usah heran tumbuh dan berkembang Gayus-gayus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, apa yang dikatakan oleh Krisbiantoro patut kita serap dalam hidup kita. Sebagai bangsa, kita perlu mencontoh sosok-sosok pejuang. Mereka telah berani mengorbankan hidup untuk kita. Mereka memberi semangat bagi kita untuk memacu diri menjadi bangsa pejuang. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Sabtu, 16 Juli 2011
Membangun Komunikasi Kasih
Brutalisme bisa terjadi karena miskomunikasi atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Peristiwa berdarah yang terjadi di Koja, Jakarta Utara, Rabu tanggal 14 April 2010 lalu merupakan salah satu contohnya. Menurut beberapa sumber, ada miskomunikasi antara pimpinan dengan anak buah di lapangan. Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik itu menyebabkan terjadinya kerusuhan. Orang tidak saling mengerti. Akibatnya, yang dilakukan adalah menyerang orang lain.
Menyaksikan hal ini, seorang penyiar radio sekaligus pembawa acara, merasa galau. Jatuhnya korban tewas dan banyaknya korban luka mengusik hatinya. Ia berkata, "Brutalitasme ini buah dari ranting dan cabang miskomunikasi yang buruk antara aparat dan masyarakat. Akarnya adalah hukum yang tak kenal rasa keadilan, lalu ditiup angin bisik-bisik kepentingan. Ini puisi kegalauan hatiku."
Menurutnya, ketidakadilan yang dirasakan rakyat sudah demikian dalam. Akibatnya, mudah sekali meluap menjadi kebrutalan. Ia berkata, "Pendengar radio di mana aku siaran juga mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi? Satpol PP memang menggemaskan. Tetapi saat personelnya ada yang meninggal dunia, kita juga merasa prihatin dan simpati. Mereka juga manusia."
Ia mengimbau para penegak hukum supaya tidak hanya bicara soal hukum formal, tetapi memperhatikan juga rasa keadilan. Ia berkata, "Kalau negara ini cinta rakyatnya, sebaiknya aparat negara tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Lebih baik kita berdialog. Meski alot dan lama, hasilnya memuaskan dan bisa meminimalkan korban."
Sahabat, kita hidup dalam dunia komunikasi yang begitu maju. Ada alat-alat komunikasi yang dapat membantu manusia untuk menjalin komunikasi dengan sesamanya. Soalnya adalah apakah manusia sungguh-sungguh menggunakan komunikasi itu demi kebaikan? Atau manusia menggunakan alat-alat komunikasi itu untuk menindas yang lain?
Persoalan yang terjadi adalah manusia tidak sungguh-sungguh menjalin komunikasi. Dalam komunikasi itu yang terjadi hanya satu arah. Akibatnya, komunikasi yang tidak berjalan dengan semestinya itu dapat menimbulkan ketidakadilan. Pihak yang satu memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain. Ada tindakan penindasan dalam hal ini.
Karena itu, manusia mesti mengubah pola berkomunikasi. Dengan alat-alat komunikasi yang canggih di zaman modern ini, orang mesti menggunakannya sebaik-baiknya untuk kemajuan bersama.
Untuk itu, komunikasi yang dilakukan itu mesti mendahulukan kepentingan bersama. Komunikasi yang mementingkan kedamaian bagi semua orang. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan. Namun kalau orang sungguh-sungguh mau belajar, orang akan menemukan suatu komunikasi yang membahagiakan semua orang.
Sebagai orang beriman, komunikasi yang kita lakukan mesti berlandaskan pada kasih seorang terhadap yang lain. Kita ingin membangun komunikasi, karena kita mengasihi sesama kita. Kita ingin agar kasih itu menjadi andalan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus membangun komunikasi kasih di antara kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Menyaksikan hal ini, seorang penyiar radio sekaligus pembawa acara, merasa galau. Jatuhnya korban tewas dan banyaknya korban luka mengusik hatinya. Ia berkata, "Brutalitasme ini buah dari ranting dan cabang miskomunikasi yang buruk antara aparat dan masyarakat. Akarnya adalah hukum yang tak kenal rasa keadilan, lalu ditiup angin bisik-bisik kepentingan. Ini puisi kegalauan hatiku."
Menurutnya, ketidakadilan yang dirasakan rakyat sudah demikian dalam. Akibatnya, mudah sekali meluap menjadi kebrutalan. Ia berkata, "Pendengar radio di mana aku siaran juga mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi? Satpol PP memang menggemaskan. Tetapi saat personelnya ada yang meninggal dunia, kita juga merasa prihatin dan simpati. Mereka juga manusia."
Ia mengimbau para penegak hukum supaya tidak hanya bicara soal hukum formal, tetapi memperhatikan juga rasa keadilan. Ia berkata, "Kalau negara ini cinta rakyatnya, sebaiknya aparat negara tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Lebih baik kita berdialog. Meski alot dan lama, hasilnya memuaskan dan bisa meminimalkan korban."
Sahabat, kita hidup dalam dunia komunikasi yang begitu maju. Ada alat-alat komunikasi yang dapat membantu manusia untuk menjalin komunikasi dengan sesamanya. Soalnya adalah apakah manusia sungguh-sungguh menggunakan komunikasi itu demi kebaikan? Atau manusia menggunakan alat-alat komunikasi itu untuk menindas yang lain?
Persoalan yang terjadi adalah manusia tidak sungguh-sungguh menjalin komunikasi. Dalam komunikasi itu yang terjadi hanya satu arah. Akibatnya, komunikasi yang tidak berjalan dengan semestinya itu dapat menimbulkan ketidakadilan. Pihak yang satu memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain. Ada tindakan penindasan dalam hal ini.
Karena itu, manusia mesti mengubah pola berkomunikasi. Dengan alat-alat komunikasi yang canggih di zaman modern ini, orang mesti menggunakannya sebaik-baiknya untuk kemajuan bersama.
Untuk itu, komunikasi yang dilakukan itu mesti mendahulukan kepentingan bersama. Komunikasi yang mementingkan kedamaian bagi semua orang. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan. Namun kalau orang sungguh-sungguh mau belajar, orang akan menemukan suatu komunikasi yang membahagiakan semua orang.
Sebagai orang beriman, komunikasi yang kita lakukan mesti berlandaskan pada kasih seorang terhadap yang lain. Kita ingin membangun komunikasi, karena kita mengasihi sesama kita. Kita ingin agar kasih itu menjadi andalan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus membangun komunikasi kasih di antara kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Jumat, 15 Juli 2011
Dahulukan Karakter Damai
Kisah mengerikan terjadi di daerah Koja, Tanjung Priok, Rabu, tanggal 14 April 2010 lalu. Di jalanan, ribuan warga melempari aparat Satuan Polisi Pamong Praja dan polisi dengan apa saja. Sesekali mengejar petugas, kemudian merampas peralatan mereka. Aparat juga melawan. Mereka bergiliran melemparkan batu ke arah warga. Sesekali menembakkan meriam air atau gas air mata ke kerumunan warga. Kejar-kejaran tak terhindarkan.
Perang kota ini hanya berlangsung di jalan di wilayah Koja, Jakarta Utara. Perang tak terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja yang menjadi tempat perawatan korban-korban luka. Kedua pihak dirawat di satu ruang, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja. Rumah sakit ini juga menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah berperang di jalan.
Di RSUD Koja tidak ada permusuhan. Semua yang berada di tempat ini hanya mereka yang memerlukan pertolongan. Pihak rumah sakit mengambil sikap tegas. Caroline, Wakil Direktur RSUD Koja, berkata, "Kami harap tenang, sabar. Jangan ganggu kami memberi pengobatan. Semua warga akan kami tolong."
Selama bentrok berdarah itu, kepanikan terpusat di Ruang IGD RSUD Koja. Sanak keluarga menunggu di depan pintu masuk ruangan itu. Hampir semua korban dibawa tim medis dengan ambulans ke ruangan ini. Suasana di IGD RSUD Koja hiruk-pikuk. Selama penantian para korban luka, mereka yang bertikai tak saling bentrok di rumah sakit. Kedua pihak sama-sama bisa menahan diri.
Sahabat, bentrokan fisik selalu meninggalkan kepedihan bagi mereka yang menjadi korban. Ada yang mesti menanggung penderitaan. Peristiwa yang terjadi di Tanjung Priok itu (atau di mana saja) menjadi sebuah bahan refleksi bagi manusia. Rakyat dan pihak yang memiliki kekuasaan mesti merefleksikan peristiwa yang terjadi. Mengapa harus terjadi bentrokan fisik di antara manusia? Bukankah ada cara-cara damai yang mesti dilalui untuk mengatasi bentrok fisik?
Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup manusia ini adalah karakter manusia yang senantiasa mendahulukan damai. Tidak gampang menemukan orang yang memiliki karakter seperti ini. Orang mesti berusaha dengan berbagai cara untuk memiliki karakter yang kuat dalam memperjuangkan damai dalam hidup. Ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi.
Orang beriman diajak untuk memiliki karakter yang senantiasa mendahulukan damai. Untuk itu, orang beriman mesti menjauhkan dirinya dari permusuhan dan kebencian dalam hatinya. Orang mesti melepaskan diri dari dua hal ini untuk menumbuhkan karakter damai dalam dirinya. Tentu saja hal ini tidak mudah.
Namun kita dapat menyerap contoh dalam tragedi Tanjung Priok dalam kisah tadi. Orang mesti berani untuk saling mengampuni dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Perang kota ini hanya berlangsung di jalan di wilayah Koja, Jakarta Utara. Perang tak terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja yang menjadi tempat perawatan korban-korban luka. Kedua pihak dirawat di satu ruang, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja. Rumah sakit ini juga menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah berperang di jalan.
Di RSUD Koja tidak ada permusuhan. Semua yang berada di tempat ini hanya mereka yang memerlukan pertolongan. Pihak rumah sakit mengambil sikap tegas. Caroline, Wakil Direktur RSUD Koja, berkata, "Kami harap tenang, sabar. Jangan ganggu kami memberi pengobatan. Semua warga akan kami tolong."
Selama bentrok berdarah itu, kepanikan terpusat di Ruang IGD RSUD Koja. Sanak keluarga menunggu di depan pintu masuk ruangan itu. Hampir semua korban dibawa tim medis dengan ambulans ke ruangan ini. Suasana di IGD RSUD Koja hiruk-pikuk. Selama penantian para korban luka, mereka yang bertikai tak saling bentrok di rumah sakit. Kedua pihak sama-sama bisa menahan diri.
Sahabat, bentrokan fisik selalu meninggalkan kepedihan bagi mereka yang menjadi korban. Ada yang mesti menanggung penderitaan. Peristiwa yang terjadi di Tanjung Priok itu (atau di mana saja) menjadi sebuah bahan refleksi bagi manusia. Rakyat dan pihak yang memiliki kekuasaan mesti merefleksikan peristiwa yang terjadi. Mengapa harus terjadi bentrokan fisik di antara manusia? Bukankah ada cara-cara damai yang mesti dilalui untuk mengatasi bentrok fisik?
Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup manusia ini adalah karakter manusia yang senantiasa mendahulukan damai. Tidak gampang menemukan orang yang memiliki karakter seperti ini. Orang mesti berusaha dengan berbagai cara untuk memiliki karakter yang kuat dalam memperjuangkan damai dalam hidup. Ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi.
Orang beriman diajak untuk memiliki karakter yang senantiasa mendahulukan damai. Untuk itu, orang beriman mesti menjauhkan dirinya dari permusuhan dan kebencian dalam hatinya. Orang mesti melepaskan diri dari dua hal ini untuk menumbuhkan karakter damai dalam dirinya. Tentu saja hal ini tidak mudah.
Namun kita dapat menyerap contoh dalam tragedi Tanjung Priok dalam kisah tadi. Orang mesti berani untuk saling mengampuni dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Kamis, 14 Juli 2011
Berani Meninggalkan Keinginan Pribadi
Perceraian selalu meninggalkan kepedihan dalam hidup. Pasangan yang bercerai sebenarnya mengingkari cinta yang telah lama mereka jalin. Mereka mengakui kegagalan dalam membangun cinta itu. Karena itu, jalan pintas mereka pilih. Untuk sementara, peristiwa perceraian menguntungkan kedua belah pihak. Namun mesti diakui bahwa peristiwa perceraian meninggalkan luka dalam diri orang-orang yang hidup di sekitar mereka.
Pengalaman ini dialami aktor Jake Gyllenhaal yang tak kuasa menghilangkan rasa sedihnya saat kedua orangtuanya mengabarkan perceraian mereka setelah 29 tahun menikah. Namun, bintang film Brokeback Mountain berusia 29 tahun ini menghormati keputusan orangtuanya itu.
Ia berkata, "Sesakit apa pun perceraian itu, kita semakin realistis melihat sebuah hubungan. Ada hubungan pernikahan yang bisa berlangsung selamanya, tetapi ada pula yang sementara saja. Perlu keberanian mereka untuk membuat keputusan ini. Mereka tetap orangtua yang luar biasa bagi saya dan saudara saya aktris Maggie Gyllenhaal."
Melalui perceraian orangtuanya ini, Gyllenhaal mengaku bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Namun orang mesti tetap selalu berusaha untuk meraih kesempurnaan dalam hidup ini. Untuk mencapai kesempurnaan itu tidak gampang. Tidak sekali jadi dalam satu usaha. Ada aral yang melintang dalam usaha untuk meraih kesempurnaan itu.
Sahabat, banyak orang tahu dan mengerti bahwa perceraian itu meninggalkan penderitaan dalam hidup ini. Ada luka yang terasa sakit yang menusuk hati seseorang. Namun sering orang mengambil langkah nekat untuk saling bercerai. Orang memutuskan untuk berpisah dengan berbagai alasan.
Pertanyaannya, mengapa manusia tega untuk saling memisahkan diri dari perkawinan yang sakral dan suci itu? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bermacam ragam. Namun satu hal yang pasti, yaitu egoisme menjadi faktor paling kuat dalam perceraian itu. Orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri. Orang memaksakan keinginan dirinya sendiri kepada pasangannya. Tidak ada kesepakatan di antara pasangan ini. Yang mereka pentingkan hanyalah pemenuhan egoisme mereka.
Karena itu, orang beriman mesti selalu hati-hati dalam hal ini. Orang tidak boleh cepat-cepat memutuskan untuk berpisah setelah menjalin relasi cinta yang mendalam dan lama. Orang mesti berusaha untuk mengerti pasangannya. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri terjadi dalam kehidupan berkeluarga.
Ketika sebuah pasangan menyadari sungguh-sungguh makna perkawinan dalam hidup mereka, perkawinan mereka akan langgeng. Namun ketika orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri, perkawinan akan mudah rapuh dan goyah. Karena itu, orang beriman yang hidup dalam perkawinan mesti selalu menyadari pentingnya perkawinan bagi keselamatan dan kebahagiaan masing-masing pasangan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Pengalaman ini dialami aktor Jake Gyllenhaal yang tak kuasa menghilangkan rasa sedihnya saat kedua orangtuanya mengabarkan perceraian mereka setelah 29 tahun menikah. Namun, bintang film Brokeback Mountain berusia 29 tahun ini menghormati keputusan orangtuanya itu.
Ia berkata, "Sesakit apa pun perceraian itu, kita semakin realistis melihat sebuah hubungan. Ada hubungan pernikahan yang bisa berlangsung selamanya, tetapi ada pula yang sementara saja. Perlu keberanian mereka untuk membuat keputusan ini. Mereka tetap orangtua yang luar biasa bagi saya dan saudara saya aktris Maggie Gyllenhaal."
Melalui perceraian orangtuanya ini, Gyllenhaal mengaku bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Namun orang mesti tetap selalu berusaha untuk meraih kesempurnaan dalam hidup ini. Untuk mencapai kesempurnaan itu tidak gampang. Tidak sekali jadi dalam satu usaha. Ada aral yang melintang dalam usaha untuk meraih kesempurnaan itu.
Sahabat, banyak orang tahu dan mengerti bahwa perceraian itu meninggalkan penderitaan dalam hidup ini. Ada luka yang terasa sakit yang menusuk hati seseorang. Namun sering orang mengambil langkah nekat untuk saling bercerai. Orang memutuskan untuk berpisah dengan berbagai alasan.
Pertanyaannya, mengapa manusia tega untuk saling memisahkan diri dari perkawinan yang sakral dan suci itu? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bermacam ragam. Namun satu hal yang pasti, yaitu egoisme menjadi faktor paling kuat dalam perceraian itu. Orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri. Orang memaksakan keinginan dirinya sendiri kepada pasangannya. Tidak ada kesepakatan di antara pasangan ini. Yang mereka pentingkan hanyalah pemenuhan egoisme mereka.
Karena itu, orang beriman mesti selalu hati-hati dalam hal ini. Orang tidak boleh cepat-cepat memutuskan untuk berpisah setelah menjalin relasi cinta yang mendalam dan lama. Orang mesti berusaha untuk mengerti pasangannya. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri terjadi dalam kehidupan berkeluarga.
Ketika sebuah pasangan menyadari sungguh-sungguh makna perkawinan dalam hidup mereka, perkawinan mereka akan langgeng. Namun ketika orang hanya mementingkan keinginan dirinya sendiri, perkawinan akan mudah rapuh dan goyah. Karena itu, orang beriman yang hidup dalam perkawinan mesti selalu menyadari pentingnya perkawinan bagi keselamatan dan kebahagiaan masing-masing pasangan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/