Ia tergolong siswi yang tangguh, cerdas, dan tegas. Betapa tidak? Baru SMA ia sudah menjadi pramusaji di sebuah restoran. Menurut pengakuan gadis berusia 15 tahun ini, ia harus melakukan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarganya. Ia datang dari keluarga tidak mampu. Apalagi ayahnya sudah tidak bisa bekerja lagi. Ayahnya mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya diamputasi.
Ketika pertama kali menyaksikan kondisi ayahnya yang tak berdaya, ia tidak tahan. Ia berbisik kepada ibunya, "Bu, saya yang harus menggantikan peran ayah dalam keluarga kita. Ibu tidak usah kuatir."
Sang ibu hanya sedih memandangnya. Sebenarnya ia tidak tega menyaksikan anak yang masih kecil itu banting tulang bekerja untuk keluarga. Namun demi kelangsungan hidup keluarga, ia pun rela. Ia masih punya dua orang anak yang mesti ia hidupi. Dua anak itu masih kecil-kecil. Mereka masih butuh pendampingan darinya.
Si sulung mesti berkorban untuk keluarganya. Ia pergi ke kota yang terdekat. Di sana ia mulai bekerja di sebuah restoran. Setiap bulan ia pulang ke rumahnya dengan segepok uang di tangan. Uang itulah menjadi biaya hidup bagi orangtua dan kedua adiknya. Ia merasa bahagia. Ia merasa senang menjalani pekerjaan itu. Hidupnya pun tetap ugahari. Tidak berubah.
Sahabat, kita hidup dalam dunia yang begitu menantang. Tantangan itu bisa saja datang dari orang lain di sekitar kita. Tantangan itu juga datang dari diri kita sendiri. Soalnya adalah bagaimana orang menghadapi tantangan-tantangan itu?
Kalau orang tidak berani menghadapi tantangan, ia akan terpuruk dalam kehidupan ini. Namun kalau ia kuat dan berani menghadapi tantangan, ia akan tegar menjalani kehidupan ini. Ada kreativitas yang akan tumbuh dalam perjalanan hidupnya. Ada cara-cara yang baik yang dapat ditemukan untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup.
Gadis dalam kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa tantangan hidup mesti ia jawab. Ia tidak bisa menghadapi kehidupan ini dengan menyerah begitu saja pada keadaannya. Ia mesti bangkit. Ia mesti mengambil alih tanggung jawab. Yang ia pikirkan bukan dirinya sendiri lagi. Yang ia pikirkan adalah keselamatan keluarganya. Karena itu, ia berani berkorban. Ia memberikan dirinya demi cinta yang besar kepada sesamanya. Cinta itu menjadi nyata dalam tindakan. Cinta itu tidak hanya di mulut saja.
Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita juga hidup untuk orang lain. Kita memberikan hidup kita untuk orang lain.
Ketika kita menyatakan kita mencintai sesama kita, yang mesti kita lakukan adalah berbuat baik kepada sesama itu. Kita mesti berani melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama. Dengan demikian, hidup ini menjadi bermakna bagi sesama. Mari kita berusaha untuk memberi hidup kita bagi kesejahteraan bersama melalui cinta yang nyata. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Jumat, 08 Juli 2011
Kamis, 07 Juli 2011
Sejarah Masa Lalu sebagai Titik Pijak Kemajuan
Banyak orang merasa bahwa sejarah masa lalu hanyalah kenangan yang tidak harus dikenang lagi oleh manusia. Mengapa? Mungkin ada yang merasa sejarah masa lalunya begitu pahit, sehingga ia tidak perlu mengingat-ingat lagi. Karena itu, mengingat sejarah masa lalu hanyalah saat untuk membangkitkan lagi kepahitan masa lalu.
Andara Rainy (24) adalah Putri Pariwisata Indonesia berdecak kagum ketika menyaksikan dari dekat benda-benda pusaka Keraton Kesultanan Ternate. Selama dua hari, Rabu hingga Kamis awal April 2010, ia berada di bumi rempah-rempah itu untuk menghadiri Legu Gam Moloku Kie Raha, pesta rakyat Maluku Utara 2010.
Setelah menyaksikan Sultan Ternate ke-48 Jo Ou Kolano Mudaffar Sjah melepas kirab obor keliling Kota Ternate, Rabu malam, Andara mengelilingi ruang utama keraton yang terletak di lantai II. Ditemani Permaisuri Sultan Ternate Boki Ratu Nita Budi Susanti, ia antusias melihat pajangan pakaian kebesaran dan panji-panji Kesultanan Ternate yang sudah eksis sejak tahun 1500.
Perempuan kelahiran Jakarta 24 tahun lalu ini berkata, "Saya teringat zaman keemasan kerajaan-kerajaan Nusantara masa lalu. Dulu cuma tahu dari buku-buku pelajaran sejarah, betapa rempah-rempah Ternate diperebutkan Portugis, Spanyol dan Belanda. Sekarang saya sudah berada langsung di keratonnya."
Ia mengagumi Kesultanan Ternate sebagai simpul budaya Nusantara yang hingga kini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dalam era globalisasi, ia memandang keraton sebagai salah satu pranata pelestari sistem nilai dan budaya bangsa yang luhur.
Sahabat, usaha mengenang sejarah masa lalu bukanlah suatu cara untuk mengungkit luka lama. Mengenang sejarah masa lalu membantu kita untuk membangun kehidupan kita yang lebih baik. Bagi mereka yang mengalami kepahitan di masa lalu, pengenangan sejarah masa lalu menjadi suatu kesempatan untuk memacu diri untuk lebih maju. Bagi mereka yang mengalami masa lalu sebagai masa yang indah dapat menggunakannya untuk memacu dirinya agar lebih maju.
Karena itu, orang mesti melihat sejarah masa lalu sebagai suatu peristiwa yang membantu hidupnya menjadi lebih baik. Mengenal sejarah kehidupan manusia dapat membantu manusia untuk membangun kehidupan yang lebih sejahtera. Untuk itu, orang mesti berani menerima masa lalunya entah baik atau buruk. Langkah selanjutnya adalah mengolah masa lalu itu menjadi suatu kekuatan untuk pengembangan dirinya.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa mengenal sejarah masa lalu menjadi suatu unsur yang penting dalam hidup ini. Mengenal sejarah masa lalu itu menumbuhkan cinta yang semakin besar terhadap kehidupan. Ternyata ada perjuangan yang begitu besar dalam meraih kesuksesan hidup.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak menutup-nutupi sejarah masa lalu kita. Sejarah masa lalu itu kita terima dengan sukacita, sehingga menjadi dasar bagi kita untuk memperjuangkan kehidupan ini. Mari kita berusaha untuk menerima sejarah masa lalu kita untuk kita jadikan titik pijak bagi kemajuan dan kesuksesan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Andara Rainy (24) adalah Putri Pariwisata Indonesia berdecak kagum ketika menyaksikan dari dekat benda-benda pusaka Keraton Kesultanan Ternate. Selama dua hari, Rabu hingga Kamis awal April 2010, ia berada di bumi rempah-rempah itu untuk menghadiri Legu Gam Moloku Kie Raha, pesta rakyat Maluku Utara 2010.
Setelah menyaksikan Sultan Ternate ke-48 Jo Ou Kolano Mudaffar Sjah melepas kirab obor keliling Kota Ternate, Rabu malam, Andara mengelilingi ruang utama keraton yang terletak di lantai II. Ditemani Permaisuri Sultan Ternate Boki Ratu Nita Budi Susanti, ia antusias melihat pajangan pakaian kebesaran dan panji-panji Kesultanan Ternate yang sudah eksis sejak tahun 1500.
Perempuan kelahiran Jakarta 24 tahun lalu ini berkata, "Saya teringat zaman keemasan kerajaan-kerajaan Nusantara masa lalu. Dulu cuma tahu dari buku-buku pelajaran sejarah, betapa rempah-rempah Ternate diperebutkan Portugis, Spanyol dan Belanda. Sekarang saya sudah berada langsung di keratonnya."
Ia mengagumi Kesultanan Ternate sebagai simpul budaya Nusantara yang hingga kini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dalam era globalisasi, ia memandang keraton sebagai salah satu pranata pelestari sistem nilai dan budaya bangsa yang luhur.
Sahabat, usaha mengenang sejarah masa lalu bukanlah suatu cara untuk mengungkit luka lama. Mengenang sejarah masa lalu membantu kita untuk membangun kehidupan kita yang lebih baik. Bagi mereka yang mengalami kepahitan di masa lalu, pengenangan sejarah masa lalu menjadi suatu kesempatan untuk memacu diri untuk lebih maju. Bagi mereka yang mengalami masa lalu sebagai masa yang indah dapat menggunakannya untuk memacu dirinya agar lebih maju.
Karena itu, orang mesti melihat sejarah masa lalu sebagai suatu peristiwa yang membantu hidupnya menjadi lebih baik. Mengenal sejarah kehidupan manusia dapat membantu manusia untuk membangun kehidupan yang lebih sejahtera. Untuk itu, orang mesti berani menerima masa lalunya entah baik atau buruk. Langkah selanjutnya adalah mengolah masa lalu itu menjadi suatu kekuatan untuk pengembangan dirinya.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa mengenal sejarah masa lalu menjadi suatu unsur yang penting dalam hidup ini. Mengenal sejarah masa lalu itu menumbuhkan cinta yang semakin besar terhadap kehidupan. Ternyata ada perjuangan yang begitu besar dalam meraih kesuksesan hidup.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak menutup-nutupi sejarah masa lalu kita. Sejarah masa lalu itu kita terima dengan sukacita, sehingga menjadi dasar bagi kita untuk memperjuangkan kehidupan ini. Mari kita berusaha untuk menerima sejarah masa lalu kita untuk kita jadikan titik pijak bagi kemajuan dan kesuksesan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Rabu, 06 Juli 2011
Hasil Pengumpulan Dana Sementara
Terima kasih kepada Bapak, Ibu dan Saudara-Saudari sekalian yang telah melakukan Donasi untuk Gereja.
Sampai dengan Tanggal 7 Juli 2011 Dana yang terkumpul adalah Rp. 21.750.000,-
dari total dana yang dibutuhkan yaitu Rp. 215.000.000,-
maka Dana yang masih dibutuhkan yaitu Rp. 193.250.000,-
Oleh karena itu, Dompet Donasi masih terbuka untuk Bapak, Ibu dan Saudari-Saudari sekalian yang akan melakukan Donasi bisa melalui :
Bank Mandiri
No Rekening: 108-00-1161230-7
Atas Nama: Mulak Sitohang/Rejo Suprapto (Bruder).
Terima kasih dan Tuhan Memberkati.
Daftar Penerimaan Dana
Sampai dengan Tanggal 7 Juli 2011 Dana yang terkumpul adalah Rp. 21.750.000,-
dari total dana yang dibutuhkan yaitu Rp. 215.000.000,-
maka Dana yang masih dibutuhkan yaitu Rp. 193.250.000,-
Oleh karena itu, Dompet Donasi masih terbuka untuk Bapak, Ibu dan Saudari-Saudari sekalian yang akan melakukan Donasi bisa melalui :
Bank Mandiri
No Rekening: 108-00-1161230-7
Atas Nama: Mulak Sitohang/Rejo Suprapto (Bruder).
Terima kasih dan Tuhan Memberkati.
Daftar Penerimaan Dana
| NO | Tanggal | Donasi | Total |
|---|---|---|---|
| 1 | 22 Juni 2011 | 500.000,- | 500.000,- |
| 2 | 23 Juni 2011 | 200.000,- | 700.000,- |
| 3 | 24 Juni 2011 | 500.000,- | 1.200.000,- |
| 4 | 25 Juni 2011 | 100.000,- | 1.300.000,- |
| 5 | 27 Juni 2011 | 5.000.000,- | 6.300.000,- |
| 6 | 28 Juni 2011 | 6.500.000,- | 12.800.000,- |
| 7 | 30 Juni 2011 | 2.000.000,- | 14.800.000,- |
| 8 | 02 Juli 2011 | 150.000,- | 14.950.000,- |
| 9 | 04 Juli 2011 | 6.800.00,- | 21.750.000,- |
Hidup Ini Anugerah Cuma-cuma
Awal April tahun lalu diberitakan hilangnya seorang anak cacat bernama Paulette Gebara Farah di kota Meksiko. Lenyapnya anak berusia emnpat tahun ini menjadi pembicaraan banyak orang di seluruh kota. Orang membicarakan peristiwa itu di jalan-jalan, restoran. Media massa di negeri itu memberitakan peristiwa menyedihkan itu. Bahkan jejaring sosial pun ikut sibuk membicarakan hilangnya anak yang tidak bisa bicara dan berjalan itu.
Gadis cilik itu tinggal bersama orangtuanya di sebuah apartemen mewah. Ibu gadis cilik yang seorang pengacara itu mengalami penderitaan atas peristiwa itu. Ia memasang poster di berbagai tempat. Ia memohon agar kalau ada orang yang menemukan putrinya segera mengembalikannya.
Ia berkata, "Satu-satunya yang saya inginkan adalah mendapatkan anak saya kembali. Dia bocah khusus yang memerlukan orangtuanya, yang tak bisa bertahan sendiri. Dia mempunyai keluarga yang sangat mencintainya dan mau memberikan nyawa mereka untuknya."
Namun para penyelidik polisi menemukan sesuatu yang aneh. Setelah menyelidiki seluruh isi apartemen itu, polisi menemukan jenazah anak itu terbungkus seprei dan terjepit di antara kasur dan tempat tidur. Masyarakat sangat marah mendengar berita itu. Pihak polisi menduga bahwa orangtua anak itu berusaha melenyapkan anak mereka yang cacat itu.
Sahabat, kehidupan manusia adalah segala-galanya. Karena itu, kehidupan itu tidak boleh dilenyapkan. Seorang anak cacat yang membutuhkan bantuan mesti diberi bantuan untuk mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Anak-anak seperti ini mesti mendapat dukungan yang khusus. Mereka mesti diperhatikan secara istimewa, karena mereka adalah buah hati dari orangtua sendiri.
Karena itu, orang akan marah begitu mengetahui kehidupan itu disepelekan. Kehidupan yang begitu berharga itu tidak boleh dilenyapkan. Martabat manusia mesti dijunjung tinggi. Ketika martabat manusia itu tidak dijunjung tinggi, yang ada hanyalah penodaan terhadap kehidupan itu sendiri.
Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ada penolakan terhadap kehidupan manusia. Mengapa orang sampai hati menolak kehidupan? Karena orang tidak mau repot mengurus kekurangan yang ada dalam dirinya. Orang mau lepas tangan. Orang mau menikmati hidup ini hanya untuk diri sendiri.
Karena itu, mereka merasa bahwa hidup ini hanya untuk mereka sendiri. Akibatnya, kehidupan orang lain tidak dipikirkan. Atau kehidupan orang lain dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk meraih kenikmatan dalam hidup.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap hidup ini. Mengapa? Karena hidup ini adalah anugerah. Tuhan memberi kita hidup ini dengan cuma-cuma. Tuhan menghendaki agar kita memperjuangkan hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Gadis cilik itu tinggal bersama orangtuanya di sebuah apartemen mewah. Ibu gadis cilik yang seorang pengacara itu mengalami penderitaan atas peristiwa itu. Ia memasang poster di berbagai tempat. Ia memohon agar kalau ada orang yang menemukan putrinya segera mengembalikannya.
Ia berkata, "Satu-satunya yang saya inginkan adalah mendapatkan anak saya kembali. Dia bocah khusus yang memerlukan orangtuanya, yang tak bisa bertahan sendiri. Dia mempunyai keluarga yang sangat mencintainya dan mau memberikan nyawa mereka untuknya."
Namun para penyelidik polisi menemukan sesuatu yang aneh. Setelah menyelidiki seluruh isi apartemen itu, polisi menemukan jenazah anak itu terbungkus seprei dan terjepit di antara kasur dan tempat tidur. Masyarakat sangat marah mendengar berita itu. Pihak polisi menduga bahwa orangtua anak itu berusaha melenyapkan anak mereka yang cacat itu.
Sahabat, kehidupan manusia adalah segala-galanya. Karena itu, kehidupan itu tidak boleh dilenyapkan. Seorang anak cacat yang membutuhkan bantuan mesti diberi bantuan untuk mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Anak-anak seperti ini mesti mendapat dukungan yang khusus. Mereka mesti diperhatikan secara istimewa, karena mereka adalah buah hati dari orangtua sendiri.
Karena itu, orang akan marah begitu mengetahui kehidupan itu disepelekan. Kehidupan yang begitu berharga itu tidak boleh dilenyapkan. Martabat manusia mesti dijunjung tinggi. Ketika martabat manusia itu tidak dijunjung tinggi, yang ada hanyalah penodaan terhadap kehidupan itu sendiri.
Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ada penolakan terhadap kehidupan manusia. Mengapa orang sampai hati menolak kehidupan? Karena orang tidak mau repot mengurus kekurangan yang ada dalam dirinya. Orang mau lepas tangan. Orang mau menikmati hidup ini hanya untuk diri sendiri.
Karena itu, mereka merasa bahwa hidup ini hanya untuk mereka sendiri. Akibatnya, kehidupan orang lain tidak dipikirkan. Atau kehidupan orang lain dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk meraih kenikmatan dalam hidup.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap hidup ini. Mengapa? Karena hidup ini adalah anugerah. Tuhan memberi kita hidup ini dengan cuma-cuma. Tuhan menghendaki agar kita memperjuangkan hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Selasa, 05 Juli 2011
Berani Mengambil Keputusan untuk Hidup
Seorang gadis sedang bingung. Apa yang mesti ia lakukan antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti suara hatinya. Kehendak orangtua terhadap dirinya adalah ia harus menerima lamaran dari seorang pria yang bukan menjadi pilihannya. Sedangkan suara hatinya berkata lain. Ia tidak mau menerima lamaran pria yang tidak dicintainya. Ia ingin agar urusan cinta itu menjadi urusan pribadinya. Bukan urusan orangtuanya. Apalagi dalam memilih seorang kekasih.
Karena itu, terjadi keguncangan dalam diri gadis itu. Ia seorang yang setia kepada orangtuanya. Ia mengalami dilema. Mana yang mesti ia dahulukan. Apakah kehendak orangtuanya atau suara hatinya sendiri. Ia merasa, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Memilih salah satu berarti ia mesti mengorbankan yang lain. Ini yang sulit ia lakukan. Ia tidak ingin kehilangan orangtuanya. Ia ingin tetap membaktikan dirinya kepada orangtuanya. Namun ia juga tidak ingin kehilangan dirinya sendiri. Ia ingin memiliki kebebasan dalam hidupnya.
Apa yang kemudian gadis itu putuskan? Ia tidak mengambil keputusan apa-apa. Ia membiarkan semuanya berlalu. Ketika ditanya oleh orangtuanya, ia tidak mau memberikan pendapat. Ia juga tidak mau menyerahkan keputusan pada orangtuanya. Ia membiarkan persoalan itu tetap mengambang.
Sahabat, dalam hidup ini manusia memiliki kesempatan-kesempatan untuk memutuskan sesuatu. Banyak orang mengalami kesulitan untuk membuat keputusan yang tepat bagi hidupnya. Mengapa? Ada berbagai aspek yang mesti dipertimbangkan. Ada berbagai hal yang harus dilakukan untuk membuat keputusan yang sangat penting bagi hidup.
Namun orang juga mesti punya sikap yang jernih dalam membuat suatu keputusan atas hidupnya. Orang mesti mendahulukan suara hatinya yang murni. Orang mesti berani mengambil langkah, apa pun resiko yang akan dihadapi. Banyak orang tidak berani mengambil keputusan, karena takut menanggung resiko. Orang enggan untuk bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya.
Untuk itu, orang membiarkan suatu persoalan tetap mengambang. Tentu saja hal ini kurang baik bagi kehidupan. Mengapa? Karena suatu persoalan yang tidak segera diselesaikan akan menjadi duri dalam daging. Persoalan itu dapat terus-menerus menghantui hidup seseorang.
Karena itu, orang beriman mesti berani membuat keputusan atas hidupnya. Caranya adalah dengan mempertimbangkan antara suara hatinya yang jernih dengan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Akan ada resiko bila orang mengambil suatu keputusan. Namun orang beriman mesti berani menanggung resiko atas apa yang diputuskannya.
Mari kita berusaha untuk mengambil keputusan atas hidup kita. Orang beriman tentu saja menyertakan Tuhan dalam mengambil suatu keputusan. Dengan demikian, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
Karena itu, terjadi keguncangan dalam diri gadis itu. Ia seorang yang setia kepada orangtuanya. Ia mengalami dilema. Mana yang mesti ia dahulukan. Apakah kehendak orangtuanya atau suara hatinya sendiri. Ia merasa, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Memilih salah satu berarti ia mesti mengorbankan yang lain. Ini yang sulit ia lakukan. Ia tidak ingin kehilangan orangtuanya. Ia ingin tetap membaktikan dirinya kepada orangtuanya. Namun ia juga tidak ingin kehilangan dirinya sendiri. Ia ingin memiliki kebebasan dalam hidupnya.
Apa yang kemudian gadis itu putuskan? Ia tidak mengambil keputusan apa-apa. Ia membiarkan semuanya berlalu. Ketika ditanya oleh orangtuanya, ia tidak mau memberikan pendapat. Ia juga tidak mau menyerahkan keputusan pada orangtuanya. Ia membiarkan persoalan itu tetap mengambang.
Sahabat, dalam hidup ini manusia memiliki kesempatan-kesempatan untuk memutuskan sesuatu. Banyak orang mengalami kesulitan untuk membuat keputusan yang tepat bagi hidupnya. Mengapa? Ada berbagai aspek yang mesti dipertimbangkan. Ada berbagai hal yang harus dilakukan untuk membuat keputusan yang sangat penting bagi hidup.
Namun orang juga mesti punya sikap yang jernih dalam membuat suatu keputusan atas hidupnya. Orang mesti mendahulukan suara hatinya yang murni. Orang mesti berani mengambil langkah, apa pun resiko yang akan dihadapi. Banyak orang tidak berani mengambil keputusan, karena takut menanggung resiko. Orang enggan untuk bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya.
Untuk itu, orang membiarkan suatu persoalan tetap mengambang. Tentu saja hal ini kurang baik bagi kehidupan. Mengapa? Karena suatu persoalan yang tidak segera diselesaikan akan menjadi duri dalam daging. Persoalan itu dapat terus-menerus menghantui hidup seseorang.
Karena itu, orang beriman mesti berani membuat keputusan atas hidupnya. Caranya adalah dengan mempertimbangkan antara suara hatinya yang jernih dengan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Akan ada resiko bila orang mengambil suatu keputusan. Namun orang beriman mesti berani menanggung resiko atas apa yang diputuskannya.
Mari kita berusaha untuk mengambil keputusan atas hidup kita. Orang beriman tentu saja menyertakan Tuhan dalam mengambil suatu keputusan. Dengan demikian, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/